BACA KOMIK DALAM BAHASA INDONESIA TERBARU !

Sabtu, 26 Maret 2011

Energi Alternatif Tidak Harus Ambil Resiko


Sesuai dengan judul diatas, kita akan bertanya-tanya apa madsud dari judul tersebut. Tuntutan zaman akan energy adalah hal yang mutlak yang harus kita hadapi. Berbagai penemuan serta penyempurnaan di bidang energy semakin marak kita temui. Apa lagi dalam menghadapi isu pemanasan global.

Pemakaian bahan bakar fosil sejak produksi massal pada tahun 1860-an adalah alasan adanya isu pemanasan global. Menurut konsultan Wood Mackenzie, kenaikan konsumsi minyak dunia  telah tercatat sebesar 86,7 juta barel per hari di kuartal ketiga, dan sepertinya akan terus meningkat hingga 88,1 juta pada 2011.
Dengan demikian bahan bakar fosil yang merupakan enargi yang tidak dapat “diperbarui” cadangannya akan semakin menipis. Bahkan ada ahli yang beranggapan cadangan minyak kita hanya bertahan tidak lebih 10-tahun lagi !

Oleh sebab itu banyak ilmuwan dan para peneliti mulai menemukan energy alternative yang nantinya diharapkan akan dapat mengurangi bahkan dapat menggatikan bahan bakar fosil sebagai energy utama.
Salah satunya yang sudah dikembangkan sejak lama adalah pembangkit listrik tenaga angin, namun masi banyak kelemahan diantaranya mahalnya biaya pembangunan, kemudian pembangkit listrik tenaga air. Yang sampai saat ini merupakan penyumbang energy terbesar di beberapa wilayah Indonesia.
Adapun pembangkit listrik tenaga matahari yang penggunaannya masih sedikit. Lalu ada pembangkit listrik tenaga panas bumi yang sedang dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Yang satu ini menurut saya sangat efisien dengan letak geografis Indonesia yang berada di lingkaran api.
Kemudian yang sangat saya sorot adalah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Tingkat efisiensi dan biaya operasional yang rendah serta dapat digunakan dalam jangka waktu sangat panjang menjadikan Energi nuklir menjadi favorit Negara maju sebagai sumber pembangkit energinnya.
Indonesia juga telah membuat wacana akan dibangunnya fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir ini di jawa. Persiapan serta anggaran telah disiapkan. Namun, apa yang terjadi ? wacana ini mengundang banyak pro dan kontra dari berbagai kalangan. Ada yang mengatakan Indonesia belum siap dengan hal ini. Kemudian munculah tanda Tanya besar, Kenapa ?

Dari sisi ekonomis PLTN memang sangat menguntungkan memngingat pemerintah bias mengurangi subsidi listrik untuk keperluan lain misalnya. Namun disisi manusia dan lingkungan ?
Kita dapat lihat kejadian bencana pembangkit listrik Chernobyl pada tahun 1986, sebuah kota di ukraina utara. Sampai saat ini pemerintahnya masih menganggarkan 5% dari anggaran rumah tangganya  untuk menanggulangi bencana yang mengakibatkan ledakan radiasi yang membahayakan manusia disekitarnya. Sekarang kota yang seharusnya megah itu menjadi kota mati !

Juga baru-baru ini gempa dan tsunami yang melanda jepang mengakibatkan bencana baru yaitu bencana nuklir yang mengakibatkan meledaknya beberapa reaktok nuklir di fukushima – daichi.
Dalam benak saya berpikir “jepang saja yang masyarakatnya disiplin serta ahli teknologi bias keteteran, apalagi dengan kita.” Mungkin itu juga yang dilihat beberapa pengamat bahwasannya kita tidak perlu ambil resiko sejauh itu untuk mendapatkan energy murah.

Kesiapan sarana prasarana perlu didukung dengan tingkat SDM yang mendukung. Ada juga yang berpendapat kalau saja PLTN itu dibangun di jawa yang rawan gempa, itu sangat rentan dengan beberapa masalah seperti rusaknya instalasi nuklir.
“masyarakat tidak siap dengan hal ini mengingat Nuklir yang merupakan energy murah harus mengorbankan keselamatan manusia” kata seorang pengamat lingkungan.
Memang energy alternative yang murah dan ramah lingkungan itu tidak harus mengambil resiko yang membahayakan keselamatan manusia. Masih banyak sumber energy lain yang diindonesia ini sangat melimpah ruah, pemanfaatan yang bijak akan membawa dampak yang baik.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar